Tua-Muda Berpadu Kuliah S1, S2, S3 di UT

Aug 01, 2008 at 11:45 AM

SUARA PEMBARUAN DAILY

SP/TEGUH LR

Mahasiswa Universitas Terbuka tengah mengikuti ujian tugas akhir program di Universitas Negeri Surabaya (Unesa), baru-baru ini.

Kuliah di Universitas Terbuka (UT)? Kesannya, kurang bergengsi, tidak populer, dan tidak ada kampusnya. Sebagian masyarakat beranggapan UT merupakan Perguruan Tinggi Negeri (PTN) yang mahasiswanya hanya berasal dari daerah terpencil dan jauh dari kota.

Anggapan tersebut keliru, karena Kristiani Herawati Yudhoyono, juga merupakan alumnus Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Terbuka (FISIP UT). Ibu Negara itu lulus dan menjadi sarjana strata satu pada tahun 1998.

“Mantan pimpinan Tentara Nasional Indonesia (TNI), di antaranya Jenderal (Purn) Wiranto dan mantan Pangdam Jaya, Djaja Suparman, juga alumnus PTN ini,” kata Kepala Humas UT, Endang Leles kepada SP di Surabaya, baru-baru ini.

Universitas negeri ke-45 ini bukan hanya diminati masyarakat yang jauh dari kota dan daerah terpencil, tetapi diminati juga para elite dan kalangan pengusaha di negeri ini.

Direktur Bidang Investasi Luar Negeri salah satu perusahaan rokok terbesar di Indonesia, H Rinto Harno, juga mengikuti ujian tugas akhir program, bersama 682 mahasiswa lainnya di Universitas Surabaya (Unesa).

Prinsip belajar yang tidak mengenal usia, ternyata membawa seorang mahasiswa tertua berusia 80 tahun asal Kediri, Jawa Timur, terlihat tekun mengikuti ujian akhir semester untuk Unit Program Belajar Jarak Jauh (UPBJJ) UT Surabaya itu.

Di tempat ujian itu terlihat perpaduan mahasiswa yang sudah berusia lanjut dan muda. Mereka saling berpacu menuntut ilmu.

Di UPBJJ Surabaya tercatat 20.787 mahasiswa, sedangkan jumlah mahasiswa UT aktif secara nasional mencapai 350.000 orang.

Jarak Jauh

Proses belajar-mengajar di UT tidak hanya dengan cara tatap muka di kelas, tetapi bisa juga dilakukan dengan cara jarak jauh. Belajar bisa dilakukan kapan dan di mana saja, baik dengan bimbingan dosen (tutor) atau tidak.

Kuliah di UT bisa mengikuti program e-learning, yang kini banyak digunakan oleh para penyelenggara pendidikan terbuka dan jarak jauh. Kalau dahulu hanya Universitas Terbuka yang diijinkan menyelenggarakan pendidikan jarak jauh, maka dengan terbitnya Surat Keputusan Menteri Pendidikan Nasional No 107/U/2001 (2 Juli 2001) tentang Penyelenggaraan Program Pendidikan Tinggi Jarak Jauh, maka perguruan tinggi tertentu yang mempunyai kapasitas menyelenggarakan pendidikan terbuka dan jarak jauh menggunakan e-learning.

E-learning atau electronic learning kini semakin dikenal sebagai salah satu cara untuk mengatasi masalah pendidikan, baik di negara-negara maju maupun di negara yang sedang berkembang.

Banyak orang menggunakan istilah yang berbeda-beda dengan e-learning, namun pada prinsipnya e-learning adalah pembelajaran yang menggunakan jasa elektronika sebagai alat bantunya.

Dalam pelaksanaannya, e-learning menggunakan jasa audio, video atau perangkat komputer atau kombinasi dari ketiganya.

Bahan ajar cetak (modul) merupakan bahan utama bagi mahasiswa UT, dilengkapi dengan bahan ajar noncetak, seperti kaset audio, video, VCD, serta bahan berbasis komputer dan internet.

Sistem belajar jarak jauh ini, efektif untuk meningkatkan pemerataan pendidikan, baik bagi yang baru lulus SMA maupun kalangan yang sudah bekerja.

Bahkan, para mahasiswa juga bisa belajar dengan mendengarkan siaran tutorial melalui Radio Republik Indonesia (RRI), Q Channel dan TV Edukasi. Proses belajar-mengajar juga dilakukan dalam kelompok-kelompok belajar di mana saja dengan mendatangkan tutor.

Menurut Kepala UPBJJ UT Surabaya, Prof Dr Kisyani M Hum, pada saat tertentu tutor harus berangkat ke pulau-pulau terpencil di Sumenep, Madura, Jawa Timur, seperti Pulau Kangean dan Sapudi untuk membagi ilmu.

Sejauh ini, tidak ada yang mengeluh, meskipun hanya menggunakan perahu bermotor ke pulau-pulau kecil tadi. “Demi pemerataan pendidikan para tutor harus siap sewaktu-waktu berangkat ke pulau kecil sekalipun, jika memang ada permintaan dari kelompok mahasiswa UT di sana,” kata Kisyani.

Program S3

Menurut Endang Leles, UT yang mulai beroperasi sejak 1984, sampai sekarang telah memiliki 37 UPBJJ yang tersebar di 33 provinsi di Indonesia. UT memiliki empat fakultas, yakni Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Fakultas Ekonomi, serta Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. Keempat fakultas itu menawarkan 30 program studi, untuk menghasilkan sarjana strata satu (S1), sarjana strata dua (S2), sarjana strata tiga (S3), serta program sertifikat.

Semua program studi di UT, lanjutnya, telah memperoleh akreditasi dari Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi. Secara internasional, juga telah mendapatkan akreditasi dan sertifikat kualitas dari International Council for Open and Distance Education (ICDE) Standard Agency (ISA), serta ISO 9001-2000 dari Badan Sertifikasi SAI Global.

Diharapkan, pada tahun akademik 2008/2009, program S3 sudah bisa dilakukan, sehingga mahasiswa yang telah menyelesaikan program S2 bisa langsung menempuh program doktor di universitas ini. [SP/Teguh LR]

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s